Jemari nan komunikatif
Sejak kecil aku orangnya pendiam, kalau tidak ditanya, tidak akan bersuara, sampai dewasapun tetap pendiam. Saat di SMA, ikut kursus Bahasa Inggris sepulang sekolah, gurunya selalu bilang, "wake up Sandra, tell us about your dream!"😄 Ketika dewasapun, saat melakukan perjalanan dengan naik pesawat maupun kereta api yang membutuhkan waktu lama, aku akan betah diam sampai tujuan, kadang kalau penumpang disamping bertanya, akan aku jawab, tapi aku tidak pernah balik bertanya, sungguh teman perjalanan yang membosankan.
Anehnya, aku paling banyak bicara dalam tulisan. Sejak kecil aku sudah hobi menulis diary, dilanjut saat remaja dengan mencari sahabat pena, selain tetap menulis diary. Ada sahabat pena yang setia saling berkirim surat mulai jaman SMA sampái aku menikah, dan saat sudah mulai berumur, kita sempat bertemu lagi tanpa sengaja.
Dalam kehidupan rumah tanggapun, aku lebih suka diam, tidak suka berdebat, jadi rumah tanggaku tidak pernah ada keributan. Bukan berarti aku tidak pernah marah kepada pasangan hidupku, tapi saat aku marah, aku ambil kertas dan bolpen, kutumpahkan segala keluh kesah dan perasaanku dalam tulisan yang kemudian kuserahkan ke suamiku untuk dibaca dan direnungkan.
Di jaman medsos sekarang ini, aku lebih suka chatting daripada telpon apalagi video call, terlalu mengganggu privasi, harus fokus pada pembicaraan di telpon tau video call tersebut, sedangkan chatting bisa dilakukan sambil mengerjakan aktivitas lainnya, jawabanpun tidak harus segera diberikan. Dengan anak-anakku yang tinggal di luar kotapun aku lebih suka chatting, kecuali ada hal yang penting harus segera didiskusikan.
Ada kejadian lucu beberapa tahun silam, saat medsos belum marak, media chatting yang populer hanya yahoo messenger, setelah berkawan online selama beberapa lama, aku berkesempatan kopi parat dengan salah seorang teman online ku di Singapore. Setelah bertemu, dia merasa heran, kok aku diam saja, kujawab memang aku aslinya pendiam, lalu dia mengusulkan agar kita chatting lewat gadget masing-masing saja walaupun kita duduk berhadapan di satu meja 😀.
Kesimpulannya ternyata jemariku lebih komunikatif daripada mulutku. Terkadang kupikir koneksi dari otak ke jemariku lebih lancar daripada dari otak ke mulutku.
Comments